wiro sableng

Jadi Ikutan Sableng Setelah Menonton Wiro sableng

Setelah menanti cukup lama, diracuni trailer dan digoda promosi yang begitu masif, akhirnya saya menonton Wiro Sableng. Saya bukanlah pembaca novel Wiro Sableng yang menguasai universe-nya Wiro Sableng, tapi karakter Wiro Sableng cukup melekat diingatan kala serialnya ditayangkan di RCTI beberapa tahun silam.

Sesuai tagline yang sering muncul dalam promo filmnya yaitu “Siap Sableng”, saya pun menjadi ikut “sableng” setelah keluar bioskop menonton film ini. Berikut pemikiran “sableng” saya yang muncul setelah menonton film ini.

KESAKTIAN BIDADARI ANGIN TIMUR

Tokoh Bidadari Angin Timur yang diperankan Marsha Timothy ini ternyata sangat sakti. Dalam beberapa kemunculannya, ia sanggup membuat pasukan Mahesa Birawa beserta Mahesa Birawanya tak berkutik. Namun kenapa ia memohon agar Wiro yang menyelesaikan problematika di dunia persilatan? Padahal ia sangat sakti, kenapa tidak ia lakukan sendiri saja? Ah mungkin Bidadadi Angin Timur menganut prinsip kolektif kolegial, jadi segala sesuatunya harus dilakukan bersama-sama, kalau dilakukan sendiri maka tidak memenuhi kuorum.

DIALOG SINGKAT PERMAISURI

Sepanjang film tokoh Permaisuri yang diperankan Marcella Zalianty muncul dalam banyak adegan di istana. Namun sepanjang film tokoh ini sangat irit bicara, saya hanya mendengar satu kalimat “aku tidak apa-apa”. Permaisuri nampak lebih banyak mengirim kata melalui mimik muka untuk menggambarkan kecemasan dan ketakutan.

MAS ADI KINI JADI RAJA KAMANDAKA

Entah kenapa, selalu ingin tertawa melihat Mas Adi a.k.a Dwi Sasono berperan serius sebagai Raja Kamandaka. Bayangan tentang Mas Adi yang kocak di sitkom Tetangga Masa Gitu (NET TV) membuat saya sering tertawa tanpa sebab setiap Raja Kamandaka muncul. Ah jadi rindu Tetangga Masa Gitu yang kini sudah berhenti tayang.

Paduka Raja Kamandaka

KETIADAAN LAGU TEMA YANG MELEGENDA

Jika kita pernah menonton serial Wiro Sableng yang pernah tayang di RCTI beberapa tahun silam, tentu kita akan tahu dan mungkin hafal lagu tema Wiro Sableng yang melegenda. Saya sangat berharap lagu tersebut muncul di film ini dengan aransemen baru. Namun apa daya hingga film selesai, lagu tersebut tidak juga muncul dalam adegan ataupun sebagai nada yang menemani membaca closing credit.

Kekecewaan sedikit terobati karena lagu Koil berjudul “Aku Lupa, Aku Luka” yang menjadi teman membaca closing credit sembari menunggu post-credit scene.

KONKLUSI

Sepanjang lebih dari 120 menit saya cukup menikmati film ini. Tidak hanya mengundang tawa, film ini juga memanjakan mata dengan suguhan visual yang menarik. Hanya satu yang menurut saya kurang “sableng” yaitu proses perkenalan para tokoh yang cukup kaku. Selebihnya film ini sangat “sableng” terutama Vino G Bastian yang cukup “sableng” memerankan tokoh Wiro.

Semoga sekuelnya segera tayang dengan lebih “sableng” dan lagu tema yang melegenda itu hadir kembali dan melengkapi nostalgia.

 

Sumber gambar :
https://www.tabloidbintang.comĀ 
http://wartakota.tribunnews.com