Keluarga Suzuki di fim Survival Family

Bertahan Hidup Tanpa Listrik di Film Survival Family

 Survival Family
(2016) on IMDb

Prolog

Salah satu momen yang paling menjengkelkan adalah mati listrik. Ketiadaan listrik membuat kita seperti kehilangan arah, hanya bisa diam karena segala akses hiburan dan informasi tak bisa berjalan tanpa listrik.

Jika momen mati listrik yang dialami hanya dalam sejam atau dua jam mungkin tidak terlalu mengganggu, karena layar smartphone masih mampu mengakomodasi kebutuhan kita. Namun coba bayangkan jika mati listrik tersebut terjadi dalam berhari-hari bahkan bertahun-tahun? Yang terjadi selanjutnya adalah bencana.

Film ini bercerita tentang perjuangan keluarga Suzuki bertahan hidup tanpa teknologi yang menggunakan energi listrik dan bencana-bencana yang hadir setelahnya.

Perjuangan mereka secara perlahan membangun keharmonisan keluarga yang di awal film digambarkan sebagai sebuah keluarga yang tak harmonis.

Alkisah

Adegan film ini diawali dengan beragam kegiatan yang tak bisa dilepaskan dari energi listrik seperti adegan pengisian baterai ponsel hingga segala aktivitas bekerja dan belajar yang tak bisa lepas dari komputer. Lalu tibalah mereka pada suatu pagi dimana segala sesuatu yang memerlukan energi listrik tidak bisa bekerja.

Kepanikan terjadi setelah segala sesuatu yang menggunakan energi listrik tidak bisa digunakan. Pegawai kantoran tidak bisa bekerja karena data-data tidak bisa diakses. Sekolah-sekolah diliburkan karena para pengajar kesulitan mencari transportasi. Antrean di toko ritel mengular karena mesin kasir dan mesin EDC tidak bisa digunakan sehingga perhitungan dilakukan secara manual dan pembayaran harus dengan uang tunai.

Salah satu adegan di film Survival Family

Hari berlalu, permasalahan semakin pelik ketika persediaan makanan semakin menipis sementara swalayan mulai kehabisan bahan makanan, yang terjadi selanjutnya adalah krisis pangan.

Krisis pangan membuat harga makanan melambung tinggi dan malah dibeberapa tempat uang seakan tak berguna karena penjual menginginkan sistem barter.

Di tengah krisis pangan tersebut, keluarga Suzuki akhirnya memutuskan untuk pergi dari Tokyo, destinasi mereka adalah kampung halaman istrinya di Kagoshima. Perjalanan mereka sangatlah tidak mudah karena kereta listrik dan pesawat tidak bisa beroperasi, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda.

Perjalanan menuju kampung halaman sang ibu dilalui dengan berbagai macam rintangan. Perlahan mereka mulai terbiasa bertahan hidup ditengah minimnya akses terhadap teknologi. Konflik-konflik yang terjadi sepanjang perjalanan mulai merekatkan keharmonisan.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan yang terjadi di suatu pagi dimana sang ayah mendengar suara alarm. Lalu setelah itu lampu-lampu jalan mulai menyala, akhirnya setelah 2 tahun lebih bencana hilangnya energi listrik itu berakhir.

Sumber gambar : https://japanesefilmfestival.net